Sabtu, 21 Desember 2013

Hubungan antara transportasi dan perkembangan wilayah



Transportasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan wilayah. Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembangunan terutama dalam mendukung kegiatan perekonomian masyarakat dan perkembangan wilayah baik itu daerah perdesaan maupun daerah yang lainnya. Sistem transportasi yang ada dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan mobilitas penduduk dan sumberdaya lainnya yang dapat mendukung terjadinya pertumbuhan ekonomi didaerah ini menyebabkan pengurangan konsentrasi tenaga kerja yang mempunyai keahlian dan ketrampilan pada wilayah tertentu, selain transportasi juga untuk membuka peluang kegiatan perdagangan antar wilayah dan mengurangi perbedaaan antar wilayah sehingga mendorong terjadinya pembangunan antar wilayah. Perkembangan wilayah diorganisasikan dalam sistem perwilayahan, yang terdiri dari Satuan-satuan Wilayah Pembangunan (SWP), yang masing-masing memiliki pusat-pusatnya yang tersusun secara hirarkis. Masing-masing pusat tersebut memiliki wilayah pengaruh dan antar pusat dihubungkan oleh jaringan transportasi. Hubungan transportasi dan pengembangan wilayah bersifat interaktif dua arah dan saling menunjang. Tersedianya jaringan prasarana dan sarana transportasi ke seluruh bagian wilayah akan mendorong pengembangan dan peningkatan berbagai sektor, seperti meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan per kapita serta kesejahteraan masyarakat. Transportasi merupakan tolok ukur dalam interaksi keruangan antar wilayah dan sangat penting peranannya dalam menunjang proses perkembangan suatu wilayah. Aksesibilitas adalah salah satu hal yang penting tentang transportasi dengan perkembangan wilayah. Yang dimaksud aksesibilitas adalah kemampuan atau keadaan suatu wilayah, region, ruang untuk dapat diakses oleh pihak luar baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan adanya transportasi dapat membuka jalan komunikasi antar daerah sehingga terjadi aliran barang, jasa, manusia, dan ide-ide sebagai modal bagi suatu daerah untuk maju dan berkembang. Transportasi dapat menjadi fasilitator bagi suatu wilayah untuk maju dan berkembang karena transportasi meningkatkan aksesibilitas suatu wilayah. Transportasi sering dikaitkan dengan aksesibilitas suatu wilayah. Dalam pembangunan wilayah keberadaan prasarana dan sarana transportasi tidak dapat diabaikan dalam suatu rangkaian program pembangunan. Terjadinya proses produksi yang efisien, selalu didukung oleh sistem transportasi yang baik, investasi dan teknologi yang memadai sehingga tercipta pasar dan nilai. Aksesibilitas yang baik hasil dari transportasi yang baik pula juga akan mendorong minat swasta dan masyarakat untuk menanamkan modalnya dalam rangka pengembangan wilayah. Dengan demikian akan memajukan kegiatan perekonomian masyarakat, dan dapat mengentaskan atau setidaknya dapat mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah yang memiliki potensi sama atau berbeda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa system transportasi yang semakin baik di suatu wilayah akan menghasilkan perkembangan wilayah yang semakin baik pula di suatu wilayah. Hal ini terkait dengan kemampuan aksesibilitas yang dimiliki dari wilayah tersebut yang unggul sehingga dapat menghasilkan perkembangan-perkembangan bagi suatu wilayah.

Resume Jurnal Evaluasi Akurasi Tematik Citra Satelit Quickbird Dan Ikonos Untuk Pengadaan Peta Habitat Terumbu Karang Skala Besar



I.                   JUDUL JURNAL
Evaluasi Akurasi Tematik Citra Satelit Quickbird Dan Ikonos Untuk Pengadaan Peta Habitat Terumbu Karang Skala Besar

II.                TUJUAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan akurasi tematik dari citra satelit quickbird dan ikonos dalam mengetahui habitat karang di zona subtidal, pada dua skala peta yang berbeda. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pemilihan sensor satelit untuk pengadaan peta tematik habitat karang dan pemilihan skala peta yang sesuai. Pada kasus skala peta yang lebih besar, dimana akurasi tematik dari citra satelit tidak memadai, maka dimungkinkan pengembangan teknologi pencitraan alternatif (misalnya video) untuk pengadaan peta.

III.             METODE PENELITIAN
Pengambilan data lapangan dilakukan di sejumlah 651 titiksampling. Lokasi titik pengambilan data tersebar di Karang Congkak dan Karang Lebar, Kepulauan Seribu, Jakarta. Untuk keperluan uji akurasi tematik citra, diambil sejumlah titik pada lokasi Karang Congkak. Citra yang digunakan adalah citra Quickbird multiband (16 bit), liputan 28 September 2008 dan citra Ikonos pankromatik RGB (8 bit), liputan tanggal 8 Juli 2008. Penentuan posisi dilakukan dengan 2 unit Global Positioning System (GPS) tipe navigasi.

IV.             HASIL
A.  Hasil Klasifikasi Citra Quickbird
Secara umum citra Quickbird tidak sensitif untuk mendeteksi keberadaan karang hidup yang ditemukan pada bagian tepi dan berada pada sona perairan yang lebih dalam. Bila dibandingkan hasil klasifikasi citra pada skala 1:10.000 dengan skala 1:5000, terlihat obyek pasir bercampur lamun lebih dapat terlihat pada skala yang lebih besar (1:5000).
B.   Hasil Klasifikasi Citra Ikonos
Sama dengan kasus citra Quickbird, objek pasir bercampur lamun jauh lebih terlihat pada skala yang lebih besar (1:5000). Selain itu, hasil klasifikasi citra Ikonos terlihat menampilkan kelas karang hidup, namun demikian hasil ini perlu diverifikasi dengan uji akurasi.
C.  Uji Akurasi Citra Terklasifikasi pada Skala Peta 1: 10.000
Nilai akurasi total untuk hasil klasifikasi peta citra dari satelit Ikonos adalah 61% dan citra Quickbird adalah 42%. Akurasi terbaik klasifikasi visual citra Ikonos dari sisi produser dan user adalah untuk kelas penutupan dasar pasir yaitu 80%. Pada kelas yang sama, nilai akurasi yang lebih rendah diperoleh pada hasil klasifikasi visual citra Quickbird yaitu masing-masing 50% dan 40%.
D.  Uji Akurasi Citra Terklasifikasi pada Skala Peta 1:5000
Nilai akurasi total untuk klasifikasi visual citra Ikonos adalah 50% atau lebih rendah daripada citra Quickbird yaitu 56%. Akurasi produser dan user dari uji klasifikasi visual citra Ikonos untuk lamun dan pasir meningkat dibandingkan dengan akurasi pada skala 1:10.000. nilai akurasi produser dan user untuk citra Quickbird juga meningkat dibandingkan dengan hasil klasifikasi pada skala peta yang lebih kecil.

V.                KESIMPULAN DAN KOMENTAR
Hasil uji akurasi kedua sumber citra baik dari ikonos maupun Quickbird secara keseluruhan masih krang dari 80%. Dari dua skala peta yang dibandingkan, yaitu skala 1:10.000 dan 1:5000, akurasi klasifikasi citra Quickbird meningkat seiring dengan semakin besarnya skala peta, sementara untuk citra Ikonos, akurasi yang lebih baik diperoleh pada skala yang lebih kecil.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, sumber utama kerancuan dan ketidakkonsistenan akurasi ini kemungkinan diduga karena berasal dari akurasi spasial GPS yang digunakan di lapangan, yang tidak kompatibel dengan resolusi spasial kedua citra satelit tersebut.

RESUME JURNAL TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK IDENTIFIKASI POTENSI KEKERINGAN



I.                   Judul Jurnal
Teknik Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis Untuk Identifikasi Potensi Kekeringan.

II.                Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi wilayah yang mempunyai potensi kekeringan di Kabupaten Kebumen berdasarkan parameter-parameter fisiknya secara umum. Dengan mengetahui daerah-daerah yang rawan terhadap kekeringan, maka dapat dilakukan analisis data secara spesifik guna mengatasi permasalahan yang ada di Kabupaten Kebumen.Tahun 2008.

III.             Metode Penelitian
Pada penelitian ini, motode yang digunakan dalam memperoleh hasil adalah menumpangsusunkan parameter - parameter yang berpengaruh terhadap kekeringan dengan menggunakan SIG. Bahan data primer yang digunakan sebagai data citra satelit Landsat TM (thematic mapper) adalah peta cakupan wilayah penelitian Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain peta digital Kabupaten Kebumen, citra Landsat TM path/row 120/065, data curah hujan, data geohidrologi, dan seperangkat alat komputer lengkap. Parameter-parameter yang digunakan dalam penelitian ini meliputi indeks kebasahan, indeks kecerahan, indeks vegetasi, bentuk lahan, geohidrologi, curah hujan, serta penggunaan lahan yang berupa lahan pertanian kering. Data-data tersebut diperoleh dari bahan data primer berupa citra Landsat TM, data sekunder dari penelitian sebelumnya, serta data hasil pemeriksaan lapangan.

IV.             Hasil
Curah hujan yang ada di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah menggambarkan adanya variasi. Hujan yang terjadi terbagi menjadi lima kelas, yaitu kelas I (2000- 2500 mm/tahun), kelas II (2500-3000 mm/tahun), kelas III (3000-3500 mm/tahun), kelas IV (3500-4000 mm/tahun), dan kelas V (4000-4500 mm/tahun). Curah hujan rata-rata sebesar 2000-2500 mm/tahun dengan luas sekitar 22.070,94 km2. Penyebaran curah hujan ini terbagi menjadi dua zonasi, zonasi pertama hujan terjadi di daerah dengan jenis bentuk lahan pegunungan denudasional dan perbukitan struktural dengan jenis tanah eutrudepts/hapuldals. Isohyet curah hujan pada zonasi yang kedua berada pada kawasan bentuk lahan pegunungan denudasional, bukit sisa, dataran koluvialaluvial, dataran aluvial, serta beting gisik dengan jenis tanah eutrudepts/hapludals, endoaguepts/endoaquent, dan udipsamment/endoaquents. Di Kabupeten Kebumen, wilayah yang mempunyai tingkat kekeringan pada zonasi akuifer dangkal meliputi Kecamatan Karanggayam, Karangsambung, Sadang serta sebagian Kecamatan Alian. Pada wilayah kekeringan juga masih banyak jenis penggunaan lahan pertanian kering serta keberadaan sawah masih mempunyai tipe sawah tadah hujan. Wilayah pesisir juga diidentifikasi sebagai wilayah kekeringan. Pada wilayah pesisir tanaman pertanian berupa tanaman kering dengan sistem pengairan dengan pengambilan air tanah menggunakan mesin pompa, hal ini dikarenakan teksur tanah di kawasan pesisir berupa pasir yang bersifat permebilitas sehingga air hujan tidak dapat tertampung di permukaan dengan baik. Pada daerah penelitian wilayah kekeringan di kawasan pesisir meliputi sebagian Kecamatan Puring, Klirong, Buluspesantren, Ambal dan Mirit. Pada wilayah yang teridentifikasi mempunyai potensi kekeringan tersebut, rata-rata lahan digunakan untuk pertanian sawah tadah hujan serta perladangan.

V.                Kesimpulan dan Komentar
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik simpulan bahwa penggunaan data penginderaan jauh dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi kekeringan suatu wilayah dengan menggunakan suatu transformasi. Parameter-parameter fisiografi yang menentukan potensi kekeringan tersebut meliputi faktor bentuk lahan, faktor kondisi akuifer serta faktor input utama berupa curah hujan yang minim. Di Kabupaten Kebumen daerah-daerah yang diidentifikasi mempunyai potensi kekeringan meliputi sebagian Kecamatan Karanggayam, Karangsambung, Sadang, Alian, Puring, Klirong, Buluspesantren, Ambal dan Mirit.
Berdasarkan hasil pemetaan yang didapat, sangat membantu dalam mengidentifikasi wilayah yang mempunyai potensi kekeringan di Kabupaten Kebumen berdasarkan parameter-parameter fisiknya secara umum.Keterbatasan keterbatasan data permukaan yang memerlukan suatu pengaitan obyek dengan mudah, cepat, dan akurat dapat dianalisis dengan menggunakan data penginderaan jauh. SIG memiliki kemampuan yang sangat baik dalam memvisualisasikan data spasial berikut atribut-atributnya. Unsur-unsur yang terdapat dipermukaan bumi dapat diuraikan ke dalam bentuk beberapa layer atau coverage data spasial. Dengan layer ini permukaan bumi dapat direkonstruksi kembali atau dimodelkan dalam bentuk nyata (real world tiga dimensi) dengan menggunakan data ketinggian berikut layer tematik yang diperlukan.

Soeharto, Bapak Pembangunan Indonesia



Jenderal Soeharto, Siapa yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini? Beliau adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Lahir di Kemusuk, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya bernama Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.
Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun,Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Soeharto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani. Sampai akhirnya terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun 1941. Beliau resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Pada tahun 1947, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah seorang anak pegawai Mangkunegaran.
Perkawinan Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.
Pada masa pemerintahannya, banyak sekali keberhasilan yang diraih oleh Indonesia salah satunya adalah Indonesia menjadi negara yang berswasembada beras, Indonesia menjadi Macan Asia dan lain sebagainya. Setelah MPRS mengangkatnya jadi presiden (1967), Pak Harto segera menghimpun para ahli dariberbagai bidang sertamemerintahkan Bappenas untukmenyusun Garis-Garis Besar Haluan Negarayang menjadi landasan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita).Repelita itu kemudian dijabarkan setiap tahun dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (ABPN). Pak Harto menggerakkan pembangunan dengan strategi Trilogi Pembangunan yakni stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan.
Ada lima kebijakan yang dianggap manjur dalam upaya pemulihan ekonomi kala itu. Pertama, pengendalian inflasi melalui kebijakan anggaran berimbang, dan kebijakan moneter ketat. Kedua, pencukupan kebutuhan pangan.Ketiga, pencukupan kebutuhan sandang.Keempat, rehabilitasi berbagai sarana dan prasarana ekonomi. Kelima, peningkatan ekspor dengan mengembalikan sepenuhnya pada eksportir. Selain itu, juga digulirkan kebijakan jitu lainnya saat itu yakni deregulasi dan debirokratisasi. Kemudian, pemerintah juga membuka kran penanaman modal asing, secara bertahap. Kebijakan-kebijakan itu sangat berhasil menjinakkan liarnya laju inflasi. Turun drastis dari kisaran angka 650 persen (tahun 1966) menjadi 100 persen (1967),dan 50 persen (1968). Bahkan sudah terkendali di angka 13 persen (1969). Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja, pemerintahan Pak Harto mengundang penanaman modal asing. Pemerintahan Pak Harto memusatkan diri pada pembangunan ekonomi, tanpa mengabaikan bidang-bidang lain, misalnya politik dan sosial. Selama 32 tahun memerintah, Pak Harto secara teratur dan konsisten melaksanakan Pelita demi Pelita. Pertumbuhan ekonomi bergerak dengan cepat rata-rata 6,8 persen per tahun.
                Di republik ini, Pak Harto mengukir karya besar pembangunan, dibanding para pemimpin lainnya, mulai dari Presiden Soekarno, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhono saat ini.Pak Harto berhasil menurunkan secara tajam jumlahpenduduk miskin. Dari 70 juta jiwa atau 60 persen darijumlah penduduk di era 1970-an menjadi 26 juta atau hanya 14 persen, pada tahun 1990-an. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,8 persen setahun, bahkan 8,1 persen tahun 1995. Sektor industri tumbuh rata-rata 12 persen setahun, peranan industri dalam produksi nasional naik tajam dari 9,2 persen tahun 1969 menjadi 21,3 persen tahun 1991. Dan pendapatan perkapita meningkat tajam dari hanya 70 menjadi 800 dolar ASper tahun. Program Kependudukan dan KB, berhasil gemilang sehingga Pak Harto memperoleh Penghargaan Tertinggi PBB di Bidang Kependudukan atau UN Population Award.
Penghargaan ini disampaikan langsung oleh Sekjen PBB Javier de Cuellar di markas besar PBB di New York, 1989. Terlalu banyak jika disebut satu-persatu. Selama kepemimpinannya tiada hari tanpa pembangunan. Sementara belakangan ini, jangankan membangun menyebut kata pembangunan saja sangat jarang. Presiden sesudah Pak Harto beserta para elit politiknya terjebak dalam euforia reformasi. Para elit sibuk memperjuangkan kepentingan sendiri dan kelompoknya. Stabilitas nasional sangat rendah, tindakan anarkis dan main hakim sendiri merajalela. Sampai tujuh tahun, krisis ekonomi merambah jadi krisis multidimensional, belum teratasi. Bahkan belakangan, angka kemiskinan makin tinggi. Tak heran, bila keadaan ini membawa ingatan masyarakat, terutama masyarakat bawah di kota dan pedesaan, kepada sosok Pak Harto. Bagi mereka, Pak Harto adalah Bapak Pembangunan Indonesia. Sebagai manusia, apalagi sebagai pemimpin yang banyak berbuat, pastilah beliau tidak sempurna dan punya kekurangan dan kelemahan. Tetapi sebagai bangsa besar, sepatutnya bangsa ini menghormati para pejuang dan pemimpin yang mengabdikan diri kepada bangsa dan negaranya.


Referensi :
Majalah Tokoh Indonesia edisi khusus volume 24
http://id.scribd.com/doc/27152267/Tokoh-Indonesia
diakses pada 26 November 2012

Soeharto

http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto
siakses pada26 November 2012